Kekerasan fisik dan mental oleh orang tua kepada anaknya saat perawatan gigi di praktek dokter gigi


Saat membuka pesbuk beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah status dari teman sejawat setelah ia praktek. Isinya sungguh menyentak hati saya karena hal ini sering sekali terjadi di ruang praktek saya dan saya mengabaikan hal ini untuk saya tulis di blog.

image

Gambar di atas merupakan status dari kawan saya itu.

Ya… Kekerasan ortu ada anaknya yang memang waktunya dicabut maupun akibat giginya yang sering abses (bernanah) berulang.

Saya yakin marahnya ortu itu akibat dari rasa sayang ortu karena tak tega melihat anaknya yang sering sakit gigi. Atau…..
Merasa kesal saat harus terbangun malam hari karena anaknya merengek sakit gigi???

Pernah suatu saat pas saya praktek. Seorang ayah tega menempeleng anaknya karena tak mau giginya dicabut. Seketika secara reflek saya pegang tangan ayahnya dan saya ancam adukan ke polisi akibat melakuan kekerasan pada anak. Seketika juga dia diam sambil matanya jalang melihat kesana kemari.

Saya persilahkan dia menunggu di luar dan saya tutup pintu poli. Kemudian saya ajak sang nak untuk rileks. Saya mencoba untuk berkomunikasi efektif dgn sang anak. Saya mencoba berbicara dari hati ke hati membuka kebekuan hub dokter-pasien.

Pasien yang nonkooperatif karena tekanan fisik dan mental dari ortunya dan lingkungan yg menakut nakuti ke drg sungguh sangat sulit untuk diajak kooperatif dan itu merugikan terhadap kesehatan gigi sang anak. Padahal jika gigi sang anak sakit maka ia malas makan, kalau malas makan ya jelas gizi berkurang akibatnya perkembangan dan pertumbuhan jadi terganggu.

Balik ke kasus…

Setelah saya saling terbuka dgn sang anak, si anakpun sudah menaruh kepercayaan pada saya untuk merawat giginya akhirnya sang anak bisa kami obati. Setelah selesai saya memanggil ayahnya dan berbicara dari hati ke hati bahwa kekerasan tidak bisa menyelesaikan masalah. Saya beri pengertian tentang perawatan gigi dan efek jika sang anak mendapat kekerasan fisik dan mental terhadap kejiwaannya.

Dalam kasus ini ada beberapa pelajaran bagi teman sejawat dokter gigi.
Ketepatan dan keakuratan melakuan tindakan medis sangat menentukan keberhasilan perawatan tetapi juga diperlukan kemampuan untuk melakukan pendekatan psikologi kepada pasien maupun keluarga pasien. Istilah saya, memanusiakan manusia. Jangan melakukan tindakan yg menaku ti pasien anak seperti menaruh alat alat sampai bunyi berdenting.

Bagi para ortu yg membaca blog ini, semoga berguna. Anak adalah seorang individu. Namanya anak itu merekam , meniru ortu dan lingkungannya. Jika ingin anaknya tak takut ke drg dan giginya sehat yang diperlukan adalah CONTOH dari ortunya.

Mencontohkan kepada anak menyikat gigi bukan menyuruh. Tidak menakuti anak akan dokter gigi jika sang  anak dianggap “nakal” (sesungguhnya anak bukan nakal melainkan ingin tahu).

sesungguhnya anak itu adalah kertas putih… Terkadang tanpa kita sadari kitalah yang memberi warna atau kadang mengotorinya…..

MEMANUSIAKAN MANUSIA

drg.nyeleneh@gmail.com

Tentang drgnyeleneh

nyeleneh dianggap aneh justru karena tetap di jalur. seorang dokter gigi. peminat kesehatan gigi berbasis masyarakat dan kesehatan masyarakat lainnya. :)
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

tempat komen diisi ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s