POSYANDU kini dan nanti


Kamis itu di pagi buta yg dingin dg tebalnya asap harhutla yg menyesakkan dada, aku panaskan mobil Jam kala itu pukul 5.45wib. Menunggu mesin panas, ku sruput kopi hitam buatan istri tercinta. Tepat jam 6 pagi aku gas mobil menjemput teman2 satu kantor di depan gang rumah mereka masing2.

Setelah lengkap kami berempat tancap gas menuju sebuah desa yg jauh masuk ke pelosok. Waktu tempuh sekitar 2 jam. Awalnya melewati jalan lintas timur Riau.

Tepat diujung perbatasan kabupaten, kec Ukui kab. Pelalawan aku arahkan mobil menuju jalan tanah di sebelah kiri. Jendela mobil kami tutup rapat2 karena jalan masih tanah sehingga debu & asap karhutla menjadi 1 campuran yg dahsyat.

Sekitar 45 menit melewati jalan tanah berbatu sampailah kami disebuah desa ditengah2 perkebunan sawit. Ya, kami berhenti tepat di depan sebuah posyandu. Posyandu anggrek namanya.

Wajah ibu2 kader posyandu yg polos tanpa make up buatan dengan senyum mengembang menyambut kami dengan tatapan yg sumringah.

Langsung saja kami bersalam2an erat laksana keluarga yg lama tak jumpa. Kami berempat melihat kondisi posyandu. Mulai dari pemeriksaan pencatatan posyandu, tabel SKDN dan bertanya bagaimana cara membaca KMS balita.

Luar biasa pembagian tugasnya !

Yang lebih mencengangkan lagi, didukung oleh pak Kades yg baru, diinstruksikan agar sampah plastik (minuman,gelas, karung dll) dikumpulkan di posyandu.

Pengumpulannya saat ibu2 membawa balita ke posyandu. Kemudian setelah dilakukan kegiatan rutin posyandu mereka bersama2 melakukan penyortiran sampah plastik. Mana yg bisa diolah jadi cendera mata dipisahkan dan yg tidak bisa diolah dijual ke pengepul barang bekas.

Hasil olahan sampah plastik laku keras dipasar2 tradisional. Uang hasil penjualan di gunakan untuk operasional posyandu.

Unik & kreatifnya ibu Kader itu terlihat dari usulnya ke Pak kades utk membuat kolam renang 3×4 m dgn kedalaman 30 cm. Shg setiap bulan anak2 balita tertarik utk datang ke posyandu😀

Itu dari segi bisnis utk kelangsungan hidup posyandu. Sedangkan program2 posyandu tetap dijalankan. Bayangkan daerah yg jauh di pelosok Riau kalau ada 1 saja ibu2 yg tidak ke posyandu akan di datangi ke rumahnya dan ditengok apakah si anak sakit/ibu nya sakit.

Sekali lagi kader posyandu bergerak TANPA DIGAJI !!!

Berbeda dgn zaman yg semakin hedonis, yg semua hal dinilai dgn uang !

Setiap kader yg ditanya tahu dimana, siapa, bagaimana kondisi ibu hamil di desa itu.

Jejaringnya begitu kuat, kekeluargaannya begitu erat, perjuangannya sangat hebat.

Pantaslah nama lain negara adalah ibu pertiwi. Karena ibu2 lah motor penggerak utama.

Posyandu nantinya akan semakin maju di era yg akan datang. Hal ini karena didukung dgn kebijakan2 yang mendorong percepatan kemajuan desa. Ada PnPM mandiri, ADD, dan yang terbaru adalah UU Desa.

Sehat jasmani & rohani itu modal utama untuk membangun perekonomian, manusia yg bermutu bagi negara ini.

Kader2 posyandu bukan hanya di tempat saya bertugas tapi di seluruh Republik Indonesia wajar diberi penghargaan yg setinggi2nya.

Hanya ibu2 rumah tangga, tingkat pendidikan paling top juga SMP. Tapi mau dan semangat utk memberikan yg terbaik bagi desanya, tanpa digaji lagi.

Tugas dari tenaga kesehatan (nakes) dalam hal ini hanya membimbing, memotivasi dan advocacy ke pemerintahan desa. Dan saya melihat kerja mereka BERHASIL !

Bagi para pejabat, anggota Dewan yth, pemangku kebijakan dll alangkah baiknya jika turun ke desa agar menyapa kader2 posyandu ini. Bagi mereka di sapa, berfoto, berjabat tangan adalah kebanggaan yang tak terkira. Apalagi diberikan modal + masukan2 yg berguna🙂

Para pemangku kebijakan kalau datang ke Posyandu akan disambut dg hal yang MEWAH bagi teman2 di desa. Kenapa? Karena mereka menganggap pemangku kebijakan adalah ayah atau saudara yang datang dari jauh karena lama tak jumpa.

Itulah pengalaman yg bisa saya share tentang desa. Semoga semakin banyak kepedulian bagi pembaca yg diamanahi kekuasaan untuk membangun negara ini dari basis terkuat dari pondasi terkokoh yaitu DESA

Salam sehat

Tentang drgnyeleneh

nyeleneh dianggap aneh justru karena tetap di jalur. seorang dokter gigi. peminat kesehatan gigi berbasis masyarakat dan kesehatan masyarakat lainnya. :)
Pos ini dipublikasikan di GIGI, kesehatan masyarakat, komunikasi, promosi kesehatan dan tag . Tandai permalink.

tempat komen diisi ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s