Keragaman bahasa


Suatu saat di bulan september 2005, aku memulai pratugas dokter gigi ptt ku di Riau. PTT (penderitaan tiada terperi) ehhh salah ding tapi pegawai tidak tetap. Saat itu seluruh dokter dan dokter gigi diberi pembekalan di balai pelatihan kesehatan (bapelkes) pekanbaru.

Aku yang baru pertama kali ke bumi andalas sumatra langsung menuju bumi lancang kuning (riau) dari jakarta. Perbedaan logat dan cara berbicara pun membuat aku harus beradaptasi dengan cepat, baik bahasa, budaya maupun pantangan2 nya. Pekanbaru itu seperti magnet tersendiri. Kota yg multikultural bercampur baur di sini.

Ada kawan seorang dokter umum lulusan Medan SUMUT yg menjadi sahabatku selama di pratugas ini. Sebut saja ucok. Dia bilang

U :Mas, temanku betul2 gila dia. Masak ke pekanbaru naik “KERETA” sendirian
Langsung kutimpali
A: yahhhh… baguslah walaupun sendirian naik kereta itu lebih aman lho drpd naik mobi.
Lamaaaa kawan ini tercenung kemudian dia berkata
U: mas kayaknya musti diluruskan dulu deh, kita samakan persepsi “KERETA” kalaudi sini itu honda atau motor. Bukan kereta api kayak di jawa
A: ooooooooooo buletttttttttt

Hahahahahha. Itu baru masalah kereta. Adalagi yang lucu. Kalau di riau, medan. Teman2 memesan es teh manis juga jangan menyebut es teh manis nanti yg diantar oleh penjaga warung adalah TEH HANGAT MANIS? Kalau pengen es teh manis cukup bilang, PESAN TEH ES. Unik kannnnn

Lain riau daratan lain pula kepulauan.

Kalau di batam kepulauan riau temen2 penikmat kopi hitam jangan pernah pesan dgn bilang pesan kopi hitam 1. Karena sang penjual akan bingung. Tapi bilangny saya pesan KOPI O (O huruf  bukan nol). Hihihihihi.

Adalagi yg lucu nih. Saat mau beli korek gas aku bilang, bang beli korek gas dong. Yang di kasih adalahhhhh…….
KOREK API BATANGAN wkwkwkwkwkwkw… di sini rupanya korek gas dibilang menggunakan bhs inggris. Mancis

Lain lagi kalau dgn pasien. Org2 tua nya agak susah pakai bhs indonesia. Bisa tapi gag lancar. Jadi saat aku bilang…. ibu coba buka mulut… AAAAAAAA. Beliau malah tutup mulut. Setelah dibilang perawatku dgn mengatakan MENGANGO yo MAK.

Nah ngomongin pasien ada lagi yg lucu. Kalau ngomong slalu ketinggalan 1 hurup. Dia bilang, bapa ada gaja pintu?
Hahhhhh mana ada pak gajah di pintu jawabku. Bapa ada gaja pinti. Aku panik apa pasienku kesurupan yaaa…
Ternyata… kata perawatku. Dia bilang tuh ke bapak. Ada ganjal pintu? Krn pintu poli gigi kebuka sendiri

Ngekek aku

Nah menjelang sumpah pemuda. Mari kita yg muda menggunakan bahasa indonesia di pertemuan2 resmi tanpa menghilangkan bahasa daerah. Bahkan kita harus jaga bahasa daerah.
Krn bahasa indonesia lah yg menyatukan persepsi dan persodaraan kita…

Untuk traveler, para guru, para dokter mohon dehhhh menyelami bahasa tempat tugasnya juga kearifan lokalnya. Dan tetap semangat yaaaaaa

Tentang drgnyeleneh

nyeleneh dianggap aneh justru karena tetap di jalur. seorang dokter gigi. peminat kesehatan gigi berbasis masyarakat dan kesehatan masyarakat lainnya. :)
Pos ini dipublikasikan di hikmah, kisah nyata, komunikasi dan tag , , . Tandai permalink.

tempat komen diisi ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s