Catatan Sewindu Berprofesi sebagai Dokter Gigi


Penghujung tahun 2012 sudah di depan mata. Tak terasa sudah sewindu lebih jadi dokter gigi. Teringat aku 8 tahun yg lalu tepatnya bulan april 2005 saat mengucapkan Sumpah Dokter Gigi disaksikan Papah, Mamah, Istri dan anakku yg mbarep.

Dari sewindu menjalani profesi sebagai drg, aku akan coba ungkapkan pengalamanku, perasaanku, keilmuanku dan humanime yg kudapatkan selama ini. Dimulai dari…..

DOKTER GIGI PTT

Bulan April 2005 resmi aku sandang titel drg di depan namaku setelah berjibaku di FKG dan tentunya membaca sumpah drg. Mulai dari bln Juni s.d. Agustus aku sibuk hunting info ttg drg ptt (pegawai tidak tetap) yg dibuka depkes RI. Kala itu peraturan ttg pengabdian dokter berubah. Kalau dulu ditutup tutupi sekarang terbuka untuk seluruh wilaya RI.

Aku bingung dlm mengambil daerah mana yg dibuka. Awalnya ingin ambil KALTIM cuma gak dibuka. Aku ambil SUMBAR krn istri asli sana. Setelah terdiam berdua istri, tiba2 istri berkata, “ambil Riau aja yah” tanpa banyak pikir lagi ku tulis Riau sbagai tujuan ptt ku.

Bln September 2005 dgn berucap Bismillah dan berbekal nasihat ayah aku maju berangkat ke pulau Andalas, tanah Sumatera tanpa sanak saudara.

Setelah latihan pra tugas drg ptt di bapelkes kami menuju ke kabupaten tempat lami ditempatkan utk melapor ke dinkes setempat. 2 minggu kami masa orientasi.
Di kecamatan tpt tugas ku sangat jauh, menuju ke sana harus naik motor selama 1jam sampai 1,5 jam. Kalau musim hujan serti sekarang harus rela menempuh 2jam. Kalau banjir ya harus naik speed boat menyusuri sungai.

Tak pernah aku masuk puskesmas tanpa mandi lumpur. Di sana belum ada dental chair, tang cabut, maupun peralatan drg lainnya. Maklum akulah drg pertama sejak pemekaran wilayah.
Jadilah aku memakai peralatan pribadiku utk praktek di puskesmas. Selain jadi drg, aku juga jadi penyuluh kesehatan di sd tentang PHBS dan kesehatan gigi. Kalau ke siswa SMA aku menyuluh ttg bahaya narkoba.

Baksos, pengobatan ke desa terpencil terkadang unik. Saking uniknya, ,mungkin aku adalah satu satunya drg yg bisa sunat / sirkumsisi. Perkenalanku dan interaksiku ke semua desa membuat aku jadi kesayangan kepala desa bahkan dukun besar setempat yg pernah sakit gigi dan aku obati. Heheheheheh

Disana aku bertemu camat yg sangat baik. Beliau memiliki idealisme yg sejalan dgn ku.

Akhir 2005 dan awal 2006 aku ditunjuk oleh dinas kesehatan kabupaten untuk mengikuti pengobatan DACIL (daerah terpencil) ke kecamatan terluar dan kepulauan yg tentunya melewati sungai. Di sana lebih parah lagi. Sudah 3 tahun tidak ada drg ptt yg mengisi. Bisa dibayangkan pasienku berjibun ingin cabut gigi. Aku mulai star pengobatan dari jam 8 pagi dan baru selesai jam 5 sore setelah stok obat bius habis! Sungguh sangat melelahkan tapi batin ini puas

Awal 2006 dibuka tes pns daerah di kabupaten. Tanpa membuang kesempatan, aku pun mengikutinya dan alhamdulillah LULUS… sampailah aku pada tahap berikutnya yaitu…
Oya sebelum aku masuk tugas ke tempat baru, 9 kepala desa tempat tugas ptt dulu menghadap bupati agar aku gak pindah… hmmmm

PNS
Saat aku pns aku mendapat tempat tugas berbeda saat aku ptt dulu. Lebih jauh hanya masih di jalan lintas timur sumatra.
Di puskesmas pinggir jalan raya ini skill ku ditantang lagi. Yaitu ttg penyelamatan korban laka lantas

Aku dituntut harus berhadapan dgn patah tulang, menjahit kepala mayat, resusitasi jantung paru, berhadapan dgn PSK positif HIV, dan lain lain lain….

Secara pekerjaan memang sama dengan waktu ptt dulu. Penyuluhan, pengobatan dll. Tapi aku mulai mengembangkan diri dgn melakukan kerjasama lintas program dan sektor. Setelah “bosan” di puskesmas. Akhirnya pada tahun 2011 awal aku pindah ke dinas kesehatan….

DINAS KESEHATAN

Awal baru di dinas kesehatan membuatku agak kelimpungan juga. Karena perbedaan beban kerja yg dihadapi. Ternyata memang tidak sama antara struktural dan fungsional.
Tapi kusadari memang bahwa mengobati itu ada 2 jenis. Yg pertama itu mengobati secara private dan yg kedua secara masal.

Rupanya memang berkecimpung di dinas kesehatan adalah mengobati secara massal dgn program2 yg menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Dan itu bukan hanya program, tapi kita harus mempertahankannya di bappeda dan berargumen juga di DPRD. Itu bukan kerja gampang.

Ada sebuah program kesehatan yg diadopsi dari filipina dan bagus kemudian diadopsi oleh kemenkes RI coba kuperkenalkan di sini yaitu fit for school namun program ini belum bisa dilakukan dlm tingkat kabupaten karena seluruhnya masih mengejar MDG’s 2015 sehingga belum tertarik pada program ini.

Namun aku ngga kehilangan akal. Selain jadi pns aku adalah sekretaris PDGI cabang. Jadi ku kumpulkan teman sejawat yg bekerja di puskesmas dan ku minta mereka mengerjakan ini berkoordinasi dgn pramuka, dan guru SD/TK di kecamatan masing2.

Walau terseok aku yakin akan jalan…

2013

Di tahun depan aku berharap akan adanya peningkatan tunjangan penghasilan bagi dokter, dokter gigi, bidan, perawat dan seluruh nakes terutama di DTPK (daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan) mengingat beban kerja, tantangan dan keperluan hidup yg tinggi. Pekerjaan tenaga medis dan paramedis itu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, 12 bulan setahun. Mereka berhubungan dgn nyawa manusia, kesehatan, bahkan pendidikan. Sama halnya dgn tentara dan polisi.

Aku berharap pejuang kemanusiaan itu yg sudah rela, ikhlas dan bangga dengan profesi dan idealismenya mendapat kan penghargaan yg layak. Jangan biarkan mereka merengut memikirkan biaya hidup. Jangan biarkan mereka terpecah konsentrasinya krn biaya hidup.

Biarkan mereka tersenyum…..

Catatan lainnya adalah perlunya pelatihan ttg kerja team work. Lintas sektor antara dinas terkait sehingga bisa seiring sejalan sepenanggungan, agar terwujud Indonesia yg MERDEKA

Skill dokter gigi terus menerus di update adalah kewajiban.
Tapi yg perlu di update adalah nurani…

Smoga catatan sewindu yg teramat singkat ini bisa jadi masukan bagi bangsa ini….

Selamat tahun baru 2013

Tentang drgnyeleneh

nyeleneh dianggap aneh justru karena tetap di jalur. seorang dokter gigi. peminat kesehatan gigi berbasis masyarakat dan kesehatan masyarakat lainnya. :)
Pos ini dipublikasikan di GIGI, kesehatan masyarakat dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Catatan Sewindu Berprofesi sebagai Dokter Gigi

  1. noni berkata:

    Ternyata di Indonesia masih ada dokter sandal bukan hanya di China jaman Revolusi Kebudayaan. Bukan berarti Dokter Sandal itu merendahkan lho…Dokter Sandal adalah dokter serba bisa dalam keadaan serba gak bisa, sehingga untuk bepergian aja cuma pake kaki beralaskan sandal. Mereka benar-benar berdedikasi tinggi.

    Selamat berjuang yah Pram….itu namanya jihad Pram….

  2. drgnyeleneh berkata:

    Hehehehehe… alhamdulillah memang itulah tujuan ku jadi dokter

tempat komen diisi ya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s